Rabu, 05 April 2017

... MACAM-MACAM NAFSU (Tingkatan Nafsu) PADA MANUSIA ...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim .. Selama menjalani kehidupan didunia hati manusia akan mengalami perubahan dari keadaan keruh menjadi jernih melalui tujuh tingkat nafsu. Para ahli tasawuf membagi nafsu manusia menjadi tujuh tingkatan , yaitu
1. Nafsu Amarah,
... ini adalah tingkatan yang paling rendah. Nafsul amarah cenderung mendorong manusia untuk melakukan perbuatan keji dan rendah. Keberadaan nafsu ini Disebutkan dalam Surat Yusuf ayat 53 ... "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Sifat orang yang mempunyai nafsu amarah antara lain mudah marah, sombong, takabbur, tamak, kikir , dengki dan hasud, sering memperturutkan keinginan syahwat secara berlebihan.
2. Nafsul Lawwamah,
... tingkat yang lebih tinggi adalah nafsul lawwamah. Nafsu ini sering mengkritik dan menyesali tindakan yang tidak patut yang dilakukan atas dorongan nafsul lawwamah. Keberadaan nafsu ini disebutkan dalam Surat Al Qiyamah ayat2: "...dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)" Pada tingkatan ini seseorang akan menyesali perbuatan buruknya, dia sering merenung dan mengkritik semua perbuatannya yang keliru. Selanjutnya dia berusaha agar perbuatan buruk yang telah dilakukan tidak terulang lagi.
3. Nafsul Mulhammah,
... tingkat nafsu yang ketiga adalah nafsul mulhammah. Keberadaannya disebutkan dalam Surat Asy Syam ayat 7-10... "...dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.." Orang yang telah mencapai tingkatan ini telah mampu mengendalikan dirinya dari keinginan nafsu yang rendah. Ia bisa membedakan yang hak dan batil. Ia selalu menjaga dirinya dari melakukan perbuatan tercela dan selalu berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwanya. Berusaha mengerjakan amal soleh sebanyak banyaknya.
4. Naffsul Muthmainnah, 
... tingkat nafsu yang kempat adalah nafsul Muthmainnah, keberadaan nafsu ini disebutkan dalam Surat Al fajr 27-31... : "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." Orang yang telah mencapai tingkat ini jiwanya jadi tenang , penuh rasa tawakkal, ridha dengan semua ketetapan Allah , tidak disentuh rasa duka , sedih dan cemas. 
 5. Nafsul Radhiah, 
... orang yang mencapai tingkat ini selalu merasa puas dengan apa yang diterimanya dari Allah . Bagi mereka sama saja kejadian baik maupun buruk yang menimpanya. Hatinya tidak terpengaruh oleh kehidupan dunia. Mereka selalu kembali pada Allah dan ridha dengan semua keputusan-Nya. 
 6. Nafsul Mardhiyah, 
... Tingkat ini lebih tinggi daripada Nafsul Radhiyah. Ia adalah orang yang sangat dekat dan dicintai Allah. Merekalah yang dimaksud oleh salah satu hadist Qudsi: “SENANTIASA HAMBAKU MENDEKATKAN DIRI KEPADAKU DENGAN MENGERJAKAN IBADAH IBADAH SUNAH HINGGA AKU CINTA PADANYA. MAKA APBILA AKU TELKAH MENCINTAINYA, JADILAH AKU PENDENGARANNYA YANG DENGANNYA IA MENDENGAR, PENGLIHATANNYA YANG DENGANNYA IA MELIHAT,PERKATAANNYA YANG DENGAN YA IA BERKATA KATA, JADILAH AKU TANGANNYA YANG DENGANNYA IA BERBUAT, JADILAH AKU KAKINYA YANG DENGANNYA IA MELANGKAH, DAN AKALNYA YANG DENGANNYA IA BERFIKIR” Semua langkah dan perbuatannya dilakukan atas bimbingan dan petunjuk Allah, seperti apa yang telah dilakukan Nabi Khidir dan tidak dipahami oleh Nabi Musa . Dia tidak bertindak dengan kemauan sendiri, melainkan dengan bimbingan dan kehendak Allah
7. Nafsul Kamilah, 
... ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia suci dan sempurna, yang selalu berada dalam pengawasan dan bimbinganNya. Terpelihara dari perbuatan yang tercela. Untuk meraih tingkatan nafsu dari level rendah sampai yang tinggi seperti tersebut diatas diperlukan perjuangan yang gigih dan ulet. Tidak bisa didapat dengan santai tanpa usaha yang maksimal. Untuk naik dari satu tingkat ketingkat yang lebih tinggi dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai bertahun tahun. Insya Allah dengan hati yang bersih dan jernih kita bisa meraih kemenangan dunia dan akhirat. Menjalani hidup berbahagia didunia dan akhirat , tidak ditimpa kesedihan dan duka yang berlarut larut. Kelak ditempatkan Allah di taman syurga yang abadi dan hidup kekal selamanya disana..

Arti Sebuah Ujian

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a disebutkan bahwasanya Rosululloh Saw. bersabda, “Tidak akan berhenti ujian kesusahan dan penderitaan terhadap seorang mu’min dan mu’minat baik yang menimpa dirinya sendiri atau menimpa anak-anaknya, ataupun hartanya sehingga ia menemui Alloh, meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa satu dosa pun.” (HR. Tirmidzi) Saudaraku, hikmah dari hadits mulia ini adalah bahwa adakalanya kita akan diuji terus-menerus oleh Alloh Swt. sampai benar-benar bersih kita dari noda-noda dosa. Sehingga ketika kematian kita datang, kita sudah berada dalam keadaan benar-benar bersih dan menghadap Alloh Swt. tanpa noda dosa sedikitpun. Subhaanalloh. Jadi janganlah salah sangka manakala kita mendapat ujian hidup yang sangat pahit rasanya. Sesungguhnya pahit itu hanyalah menurut versi kita. Tidakkah kita ingat pada kisah seorang pemuda yang telah berzina kemudian meminta kepada Rosululloh Saw. untuk merajamnya? Mengapa pemuda ini meminta demikian? Karena pemuda ini lebih melihat ke akhirat ketimbang ke dunia, lebih baik selesaikan di dunia berdasarkan hukum Alloh daripada selesaikan di akhirat dengan hukuman yang sangat pedih dan tiada mampu ia memikulnya. Maa syaa Alloh. Mengapa pemuda ini sedemikian siap menanggung pedihnya rajam di dunia? Tiada lain adalah karena perhitungannya akhirat. Bisa jadi pedihnya rajam akan terasa manis karena niat yang ia miliki adalah niat bertaubat kepada Alloh Swt. Bagi orang yang hitungannya duniawi, maka ia akan berat dan pahit saja menjalani hidup di dunia ini. Sedangkan bagi orang yang hitungannya akhirat, maka seberat apapun, baginya akan terasa ringan, dan sepahit apapun, baginya akan terasa manis. (AA. Gym)